Jakarta (ANTARA News) - Mata uang rupiah terhadap dolar AS, Kamis sore, menguat 32 poin seiring sentimen pasar global yang kembali positif.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat menjadi Rp9.153 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.185 per dolar AS.
"Sentimen pasar global yang kembali positif menjalar ke nilai tukar rupiah sehingga menguat terhadap dolar AS," kata pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih.
Ia menambahkan, langkah Bank Indonesia menetapkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) menjadi indikasi inflasi ke depan masih terkendali.
"Langkah BI menetapkan BI rate 5,75 persen menjadi indikasi bahwa inflasi ke depannya masih terkendali, kendati peluang turun 25 bps masih terbuka dengan mempertimbangkan suku bunga riil,"
Ia mengatakan, tingkat inflasi Maret masih relatif rendah ditengah ekspektasi naiknya harga BBM subsidi yang direncanakan semula pada 1 April 2012, dan tekanan keluar dana asing dari portofolio juga relatif terkendali.
Sementara, pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan, inflasi China yang cukup tinggi dan menurunnya ekspor dapat menjadi salah satu sentimen negatif nilai tukar dalam negeri terhadap dolar AS.
Ia menambahkan, BI yang masih menjaga rupiah di pasar menjadi salah satu faktor penguatan mata uang dalam negeri.
(KR-ZMF)
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat menjadi Rp9.153 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.185 per dolar AS.
"Sentimen pasar global yang kembali positif menjalar ke nilai tukar rupiah sehingga menguat terhadap dolar AS," kata pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih.
Ia menambahkan, langkah Bank Indonesia menetapkan tingkat suku bunga acuan (BI rate) menjadi indikasi inflasi ke depan masih terkendali.
"Langkah BI menetapkan BI rate 5,75 persen menjadi indikasi bahwa inflasi ke depannya masih terkendali, kendati peluang turun 25 bps masih terbuka dengan mempertimbangkan suku bunga riil,"
Ia mengatakan, tingkat inflasi Maret masih relatif rendah ditengah ekspektasi naiknya harga BBM subsidi yang direncanakan semula pada 1 April 2012, dan tekanan keluar dana asing dari portofolio juga relatif terkendali.
Sementara, pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan, inflasi China yang cukup tinggi dan menurunnya ekspor dapat menjadi salah satu sentimen negatif nilai tukar dalam negeri terhadap dolar AS.
Ia menambahkan, BI yang masih menjaga rupiah di pasar menjadi salah satu faktor penguatan mata uang dalam negeri.
(KR-ZMF)




0 komentar:
Posting Komentar